INFOTREN.ID - Ketegangan militer di Timur Tengah kembali memuncak setelah insiden dramatis melibatkan kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Sebuah kapal milik Iran dilaporkan mencoba melakukan pengejaran terhadap kapal induk raksasa AS tersebut di perairan internasional.
Insiden ini dikonfirmasi oleh dua pejabat Amerika Serikat yang memiliki informasi langsung mengenai dinamika di lapangan. Respons Angkatan Laut AS terbilang tegas dan cepat dalam menghadapi manuver kapal Iran tersebut.
Sebagai langkah awal antisipasi, kapal perusak AS dilaporkan mencoba menembaki kapal Iran tersebut menggunakan meriam kaliber 54 jenis Mark 45. Meriam ini merupakan perlengkapan standar yang terpasang di dek depan kapal penjelajah dan kapal perusak AS.
Meriam Mark 45 sendiri telah menjadi bagian integral dari persenjataan dek kapal Angkatan Laut Amerika Serikat sejak awal dekade 1970-an. Belum dipastikan apakah tembakan yang dilepaskan tersebut berfungsi murni sebagai peringatan atau memiliki intensi yang lebih serius.
"Tembakan itu melesat beberapa kali," ujar salah satu sumber yang mengetahui masalah tersebut, dilansir dari CBS News pada Kamis (12/3). Ketidakjelasan mengenai maksud tembakan ini menambah lapisan misteri pada konfrontasi tersebut.
Selain penggunaan artileri, militer AS meningkatkan respons dengan meluncurkan dua unit rudal Hellfire dari helikopter yang berada di sekitar area operasi. Hingga saat ini, status dan nasib akhir dari kapal Iran yang terlibat dalam pengejaran tersebut masih menjadi informasi yang belum terkonfirmasi.
Tidak disebutkan secara spesifik jenis helikopter yang digunakan AS untuk meluncurkan rudal Hellfire tersebut, meskipun helikopter seperti Seahawk AL atau Viper Korps Marinir memiliki kapabilitas membawa jenis persenjataan itu. Kapal perusak kelas Arleigh Burke, seperti USS Spruance dan USS Michael Murphy, dilaporkan berada di dekat Abraham Lincoln untuk mendukung operasi.
Meskipun demikian, CENTCOM (Komando Pusat AD) enggan memberikan keterangan detail mengenai perkembangan insiden ini. "Kami tak punya informasi apa pun untuk Anda mengenai hal ini," demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh CENTCOM.
Sebelumnya, juru bicara CENTCOM sempat menyebutkan bahwa sebuah drone Iran jenis Shahed-139 terdeteksi mendekati kapal induk secara agresif sebelum akhirnya ditembak jatuh oleh jet tempur AS. Momen konfrontasi ini terjadi setelah serangkaian serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak tanggal 28 Februari.