INFOTREN.ID - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran pada tanggal 28 Februari lalu. Rentetan serangan gabungan tersebut dilaporkan menyebabkan korban jiwa yang signifikan di berbagai wilayah Iran.
Total korban tewas akibat operasi militer gabungan AS-Israel tersebut mencapai angka 1.340 orang. Di antara korban yang gugur dalam serangan itu, termasuk pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran meningkatkan tensi dengan melancarkan gelombang serangan balasan. Serangan balasan ini berupa penggunaan rudal dan drone yang diarahkan ke beberapa target strategis.
Target serangan balasan Iran mencakup fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di negara-negara Teluk. Selain itu, Teheran juga mengarahkan serangannya ke wilayah Israel.
Baru-baru ini, eskalasi serangan Iran terhadap infrastruktur sipil menjadi perhatian utama. Teheran dilaporkan menyerang fasilitas pengolahan air dan pembangkit listrik yang berada di wilayah Kuwait.
Tidak hanya menyerang Kuwait, Iran juga melancarkan serangan rudal ke kilang minyak yang berlokasi di Haifa, Israel. Serangan tersebut dilaporkan mengakibatkan kilang minyak tersebut mengalami kebakaran hebat.
Menanggapi serangkaian serangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Republik Islam Iran. Peringatan tersebut intinya adalah pembalasan akan segera menyusul tindakan Teheran.
"Pembalasan akan segera datang," adalah ancaman tegas yang disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, merujuk pada serangan Iran ke Kuwait dan Israel, ujar Presiden Trump.
Serangan terbaru Iran terhadap infrastruktur penting di Kuwait dan kilang minyak Israel menjadi pemicu utama pernyataan keras dari Washington tersebut. Insiden ini menandai babak baru dalam konflik regional yang semakin memburuk.