INFOTREN.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menciptakan suasana yang mengejutkan bagi Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, melalui sebuah referensi historis yang sensitif. Penyebutan serangan tahun 1941 di Pearl Harbor oleh Trump menjadi sorotan utama dalam pertemuan bilateral tersebut.

Meskipun pertemuan berlangsung dalam suasana yang tampak bersahabat di Ruang Oval, Gedung Putih, komentar Trump tersebut berpotensi menimbulkan kegelisahan di Tokyo. Jepang saat ini merupakan salah satu sekutu terpenting Amerika Serikat di kawasan Pasifik.

Peristiwa ini terjadi ketika Trump sedang menjelaskan kepada wartawan mengenai keputusan AS dan Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari tanpa memberi tahu sekutu terlebih dahulu. Pertanyaan mengenai kurangnya koordinasi tersebut dijawab Trump dengan analogi sejarah yang tidak terduga.

Dilansir AFP, Jumat (20/3/2026), Trump menggunakan pengalaman masa lalu Jepang sebagai pembenaran atas taktik kejutan militer yang baru saja dilakukan terhadap Teheran. Referensi ini langsung merujuk pada serangan mendadak Jepang terhadap pangkalan militer AS tersebut.

Trump mengemukakan alasan utama di balik kerahasiaan operasi militer tersebut kepada para awak media yang hadir. Ia menekankan pentingnya elemen kejutan dalam operasi pertahanan dan penyerangan.

"Kami tidak memberi tahu siapa pun tentang hal itu karena kami menginginkan kejutan," kata Presiden Trump di Ruang Oval, Gedung Putih.

Ia kemudian langsung mengaitkan strategi tersebut dengan sejarah hubungan kedua negara. Hal ini menjadi cara Trump untuk membenarkan tindakannya kepada sekutu utamanya.

"Siapa yang lebih tahu tentang kejutan daripada Jepang, oke?" ujar Donald Trump saat mengakhiri penjelasannya mengenai serangan ke Iran.

Reaksi PM Takaichi terhadap penyebutan insiden bersejarah yang melibatkan kekalahan Jepang tersebut tidak dijelaskan secara rinci dalam laporan tersebut, namun konteksnya sangat signifikan mengingat sensitivitas hubungan bilateral.